Senin, 24 Oktober 2011

Be respectful!

Before reading this post, please be alert that I, as the writer, have no intention to harm anyone's belief, religion, and feeling. I am Catholic ( I believe, this is still "Christian") and open-minded Indonesian, so please excuse for any grammatical error for I just write this down without checking it. I just want to state what my mind thinks asap while i still find this topic interesting.

If you feel like you are a kind of fanatics, who are unable to accept what other people think, especially when it comes to your personal belief, I suggest you not to read this post. OR read it on your own risk. If you feel this writing interesting enough to discuss, please dont hesitate to write it down in the comment column. I will gladly know what people think on this matter.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Okay, this was just another night, spending my time browsing my facebook newsfeed. Suddenly my eyes caught a glimpse of my friend newly tagged photos. It was the photos about certain church activity who just held an event (months ago? i forgot), claiming Jakarta for Jesus. That was quite big event. They posted the campaign everywhere, even my house got one of the brochure at that time. Not a big deal for me, and actually this did not disturb me, at all. It didnt disturb my school friends (opps, i forgot to mention that I was from Christian school). It didn't disturb other (Christian) people.

Okay, now let's move on to another illustration. Lets say, our Muslim brothers and sisters, did the same thing. They held Jakarta for Prophet Mohammed. They distributed fliers to every single house. Using any publication media to promote the event. And hired a mall to celebrate the event. Will you (my Christian friends) find it not disturbing?

With the event was held successfuly, without any sabotage effort from the other religious group, how can the Christian claiming this country as "not a safe place for practicing religious belief"? Yes, i dont want to put aside numerous act against minority (okay, church burning, church bombing, priest being stabbed, unallowed to build the church, etc, and so onn...). However, you cant deny the fact that holding that kind of event, with that name, is quite offensive for other religious belief. Even we can put this kind of event as provocative, offensive act towards the other belief (not only for Muslim, but also Hindu, Budha, etc). How can this bring peace toward society? Well, if you are truly a Christian, you wont say something like "retaliate", or "it is fair for being provocative while they did the same thing".

Another thing, while i opened the church priest's page, i found a biography . The priest says briefly "..Since my younger age, I have brought more than 100.000 souls to Christ". Many questions start building and waking up my sleepy brain cells. "Are you finding human souls as a trophy?", "For converting that many souls, are those souls is the proof that you are one of the best priest ever ?", "Are you using that statement for marketing purpose? (okay, dont be stupid. we all know that we pay the priest for the sermon, or else how can he get the money?)", and soo onnn...Uber important: please note that I dont want to judge the priest for what he did and what he wrote. I am not that high for judging people, especially judging a spiritual leader. Who am I to judge? My statement was: I just found that bio part doesnt suit my taste, my personality, my brain, my belief, etc. This personality and belief was clearly stated in my prev post. That I have no "positive" belief when it comes to human being.

So, what's the point of my writing here? Quite complicated and i found my eyes were to heavy to elaborate more. That's why I will write in points below, hope it will be enough for you:

1. Always put in other people shoes. That's how we can build tolerance towards other.

2. Never find your religious belief as the most righteous. I am not saying that you should deny your belief. However, please be objective. You think your religion is the most righteous, and so other religious believers think about their religion.

3. Read the history book, you'll find out that the best way to describe religion is like Seneca said. "Religion is regarded by the common people as true, by the wise as false, and by the rulers as useful."

4. As minority, you may say that you are being pressured. However, as minority, we should aware of possibility for being a pressure for others.

5.Tolerance is not enough. We should build respect. The difference? tolerance is limited. I can tolerate you to build one mosque here, but I cant tolerate you to build two mosques here. See? tolerance is limited. While respect is wider.

6. We should learn about other religion. Not only being an expert in ours. Learning other religion, will open up our mind for respecting the others belief. This kind of learning is not common in our society. This adds with the ethnopedagogy which is simply not working . Not many people aware of this danger and the fact that this can really torn apart our country.

Okay, i found that this is a wrap. Hope to see ur comment! :D







Minggu, 23 Oktober 2011

Jangan teriak stop korupsi, kalau kamu juga korupsi

Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh!
Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan!
Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi!

(Romi Satria Wahono)”

Saya adalah orang yang apatis terhadap pergerakan apapun. Bagi saya, ketika sebuah kondisi di mana ada manusia yang terlibat, tidak ada lagi deh itu namanya "kebenaran", "keadilan", "kebaikan", dan beragam segi "norma - norma dengan embel-embel positif" lainnya. Tidak ada pula "kejahatan", "ketidakadilan", dan hal lain yang berafiliasi dengan hal sejenis. Norma - norma tersebut dibentuk oleh para "pemenang". Ketika ada manusia - manusia, maka yang ada hanyalah "kepentingan". Kepentingan untuk pemuasan hasrat, kepentingan untuk pemuasan materi, kepentingan untuk pemuasan intelektualitas, kepentingan untuk kekuasaan, kepentingan untuk aktualisasi diri, dan segudang kepentingan lainnya.

Pemikiran seperti itulah yang membawa saya untuk senantiasa bersikap apatis, sinis, dan bersikap pragmatis terhadap upaya-upaya peneriakan slogan “keren” seperti aksi anti korupsi, anti kolonialisme, anti liberalisme, anti kapitalisme, dan segudang slogan anti "kejahatan" lainya. Ketika saya masuk FISIP, saya cukup kaget. Kaget dengan idealisme yang demikian menggebu-gebu dari para dosen, hingga teman mahasiswa saya yang aktif dalam pergerakan. Baik itu gerakan bersikap politis seperti #saveUI, gerakan moralitas seperti gerakan anti korupsi, dan banyak lagi.

Dari semua pergerakan seperti itu, saya paling tidak mampu memahami gerakan anti korupsi. Tunggu, tunggu..bukan berarti saya pro dengan per-korupsi-an, tapi jujur saja saya merasa definisi korupsi itu masih amat absurd, tidak jelas, dan terlalu luas. Oke, mungkin definisi "mengambil yang bukan miliknya" bisa cukup menjelaskan. Namun, ternyata definisi tersebut tidaklah cukup dan masih harus ditambahi embel-embel seperti "menerima yang bukan haknya". Lha? kenapa kita harus menolak ketika diberi sesuatu? Toh, memang adalah wajar dan amat manusiawi kok ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain dengan harapan orang lain memberikan sesuatu kembali kepada kita? Bahkan itu adalah insting dasar manusia, yang terwujud dalam "social exchange theory", di mana artinya sifat itu ILMIAH lhoo..Maksudnya, budaya "beri memberi" itu bukan saja berbentuk material seperti uang, tapi juga bahkan muncul dari sifat dasar kita. Dari kecil kita sudah tau persis bahwa untuk dibelikan mainan oleh orangtua, maka kita harus merajuk, membuat senang hati orang tua agar mereka tergerak hatinnya untuk membelikan kita mainan. Apa bedanya dengan logika korupsi dengan definisi yang diperluas itu?

Selain sifat naturalitas untuk "korupsi" (again, saya bukan pendukung para koruptor lho!) Menurut saya sih, karena memang itu insting dasar, maka untuk menghilangkan budaya korupsi ini adalah bagai pungguk merindukan bulan. Dan karena ini merupakan sifat yang natural, maka logikanya adalah tidak mungkin ada satu orang individu pun yang bebas dari masalah per korupsi-an ini. Maka kalimat pembuka yang saya tuliskan di awal post ini cukup menggambarkan. Tidak pantas maling teriak maling!

Tapi, bukan berarti saya mengajak para penggiat budaya non-korupsi untuk menerima jalan pikiran ini. Dan sekali lagi, saya bukan pecinta koruptor. Saya juga kesal dengan kerakusan mereka yang merugikan banyak pihak.

Akhir kata, saya senang kok dengan upaya kalian (teman-teman aktivis penggiat anti korupsi) untuk membuat hidup menjadi lebih baik :) dan saya pun akan senang jika Indonesia suatu hari nanti bisa menjadi negara yang bersih dari korupsi. Namun, tetap saja, saya sanksi dengan kepentingan para penggiat tersebut. Dan apakah mereka nantinya bisa menjaga diri dari sifat natural tersebut?

Hanya waktu yang bisa menjawabnya..


Senin, 26 September 2011

Quote

We must respect the other fellow's religion, but only in the sense and to the extent that we respect his theory that his wife is beautiful and his children smart - H. L. Mencken


Sabtu, 17 September 2011

Raping vs Woman

Raping. Woman.

Those two words start disturbing me when Livia, a just-recently-graduated college student, was being raped and murdered in the angkot, a common public transportation service here in Jakarta. The killer, or killers to be exact, are the angkot driver and his friends. This tragedy was such an uproar not only for the university and the victim family, but also the society. It shows that the public transportation services are not safe enough and the security for people who are using angkot, especially for woman, is still at the alarming state. While this case has become public attention, it doesn't prevent the next raping incident to come. Weeks to come, another victim, a factory worker, become another angkot driver target.

Raping and woman are having strong connection. A raping mostly (or always? ) put woman as a victim. We rarely see man become the victim of raping, or at least, we have another term for describing the raping case where the man become the victim. In every raping case, the victim, or we can say the woman, is the loss side. She will lose her dignity (in the form of virginity) in the glimpse of eyes because of men lust. In the society, she will be casted out and she will experience a living hell. Not worthy for a man for she has lost her crown.

Raping is clearly a strong signal about the man superiority over the woman. Though in the modern world gender equality campaign has emerged into one of the hot, important topic, in the reality it is still hard to come. Man still see woman as subordinate, not an equal match. While the public officer is most men, then for them it is easier to judge the woman as the cause of the raping. The officer will blame the woman for "not wearing the non-u-can-see-outfit", "wearing a skirt instead of trousers","walking alone in the middle of the night", etc, etc... The public officer first comment on the tragedy is not about the lack of security in the public transportation, but a blame towards women while they are actually the victim!

Cant say any words to the officer for they comment. I just wonder if their friend(s) or relatives become the raping victim, will they react the same? Blaming their friend(s) or relatives for wearing an inappropriate clothes or walking alone in the middle of the night?

P.s: I believe there is no any sane woman who wants to be raped.

Senin, 12 September 2011

9/11 Stop Prejudice! -Can We?-

"It is wonderful how much time good people spend fighting the devil. If they would only expend the same amount of energy loving their fellow men, the devil would die in his own tracks of ennui"-Helen Keller


Yesterday, we had just commemorating one of the biggest tragedy in human history. It's 9/11. After that day, the world was not the same world as before. Not only for the victims and their family, but also to the world society.

Eversince the tragedy, America with their marvelous and massive propaganda, successfully force the world to believe that Muslims, or Arab community as a living threat, vicious terrorist that should be banished and casted aside. Then as the impact, racial and religion discrimination begins, not only in US but also in the world, especially the "white race" world. The sorrow, paranoia, and painful memory soon changed into hatred towards the Muslims. But, is that the "right" thing to do?

You may read the article about the Arab-Muslim community struggling to live here or search keyword "Talat Hamdani" who is Pakistan-American mother whose son died in the tragedy. After losing her son, she had to accept the hard thing when her son was accused as "the terrorist" only because he is Muslim and Pakistani while in fact, he was died for saving people as first respondent.

Discrimination, prejudice, stereotyping will give the world a negative impact in every aspect of human life. Ironically, human brain is programmed to clasify things first based on physical condition. No wonder that prejudice and stereotyping that will lead to discrimination is hard to restrain. That will lead to the question: Can we, the foolish human, stop that?

Minggu, 04 September 2011

Sabtu, 03 September 2011

Kuliah Komunikasi, belajar apa sih?

{gw memutuskan untuk menulis tentang hal ini setelah pertemuan gw dengan seorang maba mayor fisika yang terlihat merendahkan ketika gw menjawab pertanyaan klasiknya, yakni "jurusan apa kak?". well, do you think a physics students are lot cleverer than us? }

Ketika gw dulu memilih untuk masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi, ada beberapa reaksi yang sering gw dapatkan.

[Zaman SMP - SMA]

Teman: Mau kuliah apa lu, mel?
Gw: (dengan polos) Komunikasi

Reaksi standard 1:

Teman: (terkejut) Hah, Komunikasi? Belajar apaan tuh?
Gw: (garuk-garuk kepala) ya belajar komunikasi lah
Teman: Oh, oke... (mengangguk sok paham)

Reaksi standard 2:
Teman: Hah? Komunikasi? Sayang banget! (dengan nada menggurui) harusnya lu ambil Akuntansi atau Hukum atau ..(blablabla) !
Gw: err... (diam ga tau mau ngomong apa)


Yah, hal seperti ini masih sering gw temui kalau bertemu dengan teman-teman ataupun kenalan baru. Kalau kenalan baru sih mayoritas menggunakan reaksi standard 1.

Sebenernya gw ga heran sih karena memang jurusan ini terbilang "baru", sehingga rada ga terlalu dikenal khalayak luas. Belum lagi sifat materinya yang rada "cair", dalam artian ilmu ini bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, melainkan banyak meminjam dari teori Psikologi, Sosiologi, dan macam-macam ilmu sosial lainnya.

Ditambah lagi, bukan bermaksud untuk menyombongkan diri ataupun memandang sebelah mata terhadap ilmu ini, gw rasa memang ilmunya jika dibandingkan dengan ilmu sosial lain, sebutlah dengan Sosiologi ataupun Ilmu Politik yang jauh lebih "tua" usianya, atau dengan bidang Ekonomi, bobotnya sangat jauh berbeda. Indikator yang gw lihat sih dari perbandingan kehidupan teman-teman gw yang mengambil kuliah di universitas yang sama, dengan tingkat yang sama. Dibandingkan mereka, bisa dibilang kehidupan gw jauhhhhhhhhhh sekali lebih "nyantai" daripada hidup mereka. Padahal gw sudah mengambil peminatan yang konon paling "berat" di antara seluruh peminatan yang ditawarkan oleh Ilmu Komunikasi di tempat saya.

Memang judgement seperti di atas sedikit kurang patut, mengingat gw masih jauh untuk "menyelami" ilmu ini. Yah, memang ini cukup subjektif (dalam hal ini, subjektif terhadap diri gw), tapi gw rasa ini adalah penilaian yang gw rasa cukup banyak disetujui oleh mayoritas manusia (at least, mayoritas manusia yang gw temui dan gw kenal).

Nah, berangkat dari mayoritas penilaian itulah maka gw pun memutuskan untuk menulis tulisan ini. Bakalan agak sedikit panjang dibandingkan tulisan-tulisan agak "nyampah" gw sebelumnya. Tapi semoga ada yang berkenan untuk ngebaca ya hahaha

Ketika ditanya "Kenapa sih, harus belajar Komunikasi?" mayoritas orang akan menjawab "karena komunikasi itu penting". Memang jawaban yang klise, tapi memang benar kan? Coba bayangkan, manusia mana (bahkan hingga ke tahap makhluk hidup mana) yang tidak bisa hidup tanpa berkomunikasi? Bahkan ketika kita memilih untuk "diam" ataupun memilih untuk "tidak berkomunikasi", sebenernya kita sudah menyampaikan "pesan" yang bisa dipahami oleh orang lain, lho dan itu artinya kita memang sudah berkomunikasi. Contohnya, gw lagi cemberut parah dan disaat ada yang nyapa gw, malah gw cuekin. Itu artinya gw "diam" tapi makna yang gw sampein udah jelas, bahwa "gw ga mao diganggu". Ketika yang nyapa gw itu "ngeh" kalo gw ga mao diganggu, di situ pun udah terjadi komunikasi.

Sedemikian besarnya komunikasi mempengaruhi hidup kita. Nah, biasanya orang akan bilang :" komunikasi kan adalah suatu yang alamiah, buktinya kita udah bisa ngomong, masa harus dipelajarin sih?" it's like teaching infant how to breath! ....Oooppps! siapa bilang seperti itu? Coba hitung deh, berapa kali sih kamu "salah sambung" saat ngomong sama temen kamu alias miskom? Sering kah? Nah, liat deh, kalau memang itu lah yang terjadi, makanya ga heran bahwa ini harus dipelajari dong! Setidaknya untuk meminimalisir "miskom" yang mungkin terjadi, iya kan?

Ga cuma sekadar belajar "cara berkomunikasi" sebatas gak miskom, tapi lebih luas dari itu lho! Kenapa? karena komunikasi sekarang ini sudah bukan lagi sebatas komunikasi antar individu. Kalau miskom yang terjadi hanya taraf gw dengan orang tua gw, atau gw dengan guru gw sih masih "kecil". Tapi gimana kalau miskom ini terjadi di media massa, seperti TV? Ingat kasus TV One yang salah memberitakan tentang kematian Noordin M Top? Atau misalnya berita hoax kematian artis tertentu? Gw rasa itu bukan lagi perkara yang "kecil" kan?

Komunikasi saat ini sudah menjadi salah satu industri bisnis yang luar biasa, dengan perputaran uang yang juga luar biasa. Coba lihat saja industri baik buku, koran, majalah, radio, televisi, hingga yang terbaru seperti internet dengan beragam fiturnya seperti jejaring sosial, sebutlah si bukumuka (alias Facebook), si burung ngoceh (alias Twitter), dan kawan-kawannya.
Dan percaya tidak percaya, industri ini sangat disokong oleh beragam industri lainnya lho! Sebut saja industri periklanan, industri production house (kalo ga ada sinetron atau tv series atau reality show yang ciamik, tv mau diisi apa hayo?), dan lainnya. Itu lahan bisnis yang sangat luas dan menggiurkan! Ga heran lagi kalau sekarang ini disebut sebagai era "informasi dan komunikasi", saking pentingnya namanya "komunikasi". Hayo, ngaku aja deh! Siapa yang siap kembali ke era tanpa internet dan tanpa BBM atau Twitter?

Oke, sekarang gw rasa kalian udah mulai mengerti kenapa Komunikasi mesti dipelajarin. Ini seperti orang yang belajar teknik perminyakan supaya bisa kerja di perusahan minyak internasional, ataupun seorang yang mempelajari ilmu ekonomi untuk menjadi akuntan di perusahaan akuntansi, ataupun seorang yang mempelajari ilmu bisnis untuk menjadi pebisnis. Kita belajar Ilmu Komunikasi juga untuk bisa terjun ke bisnis media. Sama aja kan? -so, awas aja ada yang nanya "belajar komunikasi nanti kerja apa?"-

Jadi, apa sih yang dipelajarin Ilmu Komunikasi itu? Ilmu ngoceh? Ilmu Public Speaking? Tips dan trik cara menulis tulisan yang cantik nan indah? Yap, memang Ilmu Komunikasi mempelajari itu semua, tapi jangan salah, kita TIDAK HANYA mempelajari hal tersebut, lho. Kita juga belajar etika dan peraturan-peraturan yang melingkupi dunia komunikasi, belum lagi permasalahan-permasalahan media massa, dan masih banyak lagi lainnya seperti belajar tentang membuat iklan, membuat konten acara, menulis berita yang baik, marketing, dan lainnya.

Misalnya saja, tau gak kalian bahwa media massa kita bermasalah, lho?

(gw yakin ketika gw ngomong ini, yang kebayang di kepala kalian adalah pornografi maupun sinetron kekerasan. Bukan, bukan itu yang saya maksudkan, saudara-saudara)

Segelintir masalah yang akan gw angkat di sini dari sekian jibunnya masalah di media massa adalah media massa kita (terutama TV) sangat tidak adil bagi orang di luar Jakarta. Coba deh kamu liat, ketika kamu di Jakarta sekitar pukul 18.00 WIB, maka tv akan kompak menayangkan siaran adzan maghrib, betul? Nah, mari kita cek stasiun tv di Kalimantan ataupun Papua di mana adzan maghrib akan ditayangkan pada pukul 19.00 WITA dan pukul 20.00 WIT (karena mereka mengacu pada waktu Jakarta). Yah, waktu maghrib sudah lewat 1-2 jam yang lalu. Jadi apa gunanya, coba? Diskriminasi kan bagi orang Kalimantan dan Papua? Contoh lainnya pemilihan gubernur DKI Jakarta yang lomba debatnya disiarkan di stasiun, nah kamu yang tinggal di Aceh juga mendapatkan siaran tersebut bukan? Coba gw tanya, adakah kegunaan kamu sebagai orang Aceh untuk tahu mengenai gubernur Jakarta? Gw aja yang orang Jakarta merasa males dengerinnya, apalagi kalo gw bukan orang Jakarta.


Sadar ga sih dengan hal itu? Bahwa berarti egois banget dong, kalao semua acara harus "ngikut" maonya Jakarta. Gak heran Jakarta makin sesak dengan pendatang, karena orang di daerah di "anak tirikan". Memang, hal ini terlihat simple, sebatas hanya "ahhh cuma masalah acara TV" kok. Tinggal cari hiburan media informasi yang lain.....

tapi tunggu dulu!

Tahu tidak kalau media massa se-powerful itu? Mau tau, powerfulnya media massa? Liat aja, kenapa kamu bisa bilang kalo es krim Magnum (es krim yang notabene baru itu lho iklannya) itu "eksklusif, enak, mewah" ngalahin es krim Wall's? Ya karena "TV bilang begitu". Kenapa kamu bisa bilang bahwa SBY itu "lamban"? Ya, karena "TV, koran, internet, semua bilang begitu". Padahal apakah kamu kenal secara pribadi dengan SBY? Tahukah kamu dengan masalah-masalah dan pilihan-pilihan yang harus ditimbang SBY secara masak-masak? Kenapa dalam kasus KPK yang "cicak-buaya" kamu bisa bilang bahwa "Bibit-Chandra adalah 'baik', dan Polri (dalam hal ini Susno) adalah 'jahat'?" Ya karena "TV bilang begitu". Apakah kamu kenal pribadi dengan mereka semua? Belum tentu!

Nah, lihat kan? betapa media sangat mempengaruhi kita! dan kita tidak sadar bahwa "there's something wrong with our media". Ini kan seperti kita mengkonsumsi es krim tapi kita tidak tahu bahwa es krim tersebut mengandung bahan berbahaya, iya kan?

Maka dari itu, siapa bilang bahwa ilmu Komunikasi "belajarin apa?"
Memang terlihat "ga ngapa-ngapain", tapi percayalah, gw sebagai mahasiswi ilmu ini merasa (dan memang) mempelajari sesuatu kok :D haha just maybe in the more fun way than you do :p
 

Template by Best Web Hosting